MENGENAL TANAMAN PORANG

Porang (Amorphopallus oncophillus) merupakan salah satu jenis tanaman iles-iles yang tumbuh di dalam hutan. Porang merupakan famili Araceae yang merupakan tumbuhan semak (herba) yang berumbi di dalam tanah, dan menghasilkan karbohidrat.

Tanaman porang tumbuh berupa semak dengan tinggi 100-150 Cm, berbatang halus,tangkai dan daunnya berwana hijau hingga hijau tua bergaris-garis dengan bercak putih. Tanaman porang merupakan tanaman lorong di antara tanaman tahunan sehingga lebih menyukai lingkungan dengan tingkat naungan tinggi dan kelembapan cukup.

Sebagaimana tanaman suweg, yang masih satu famili dengan porang, tanaman ini menghasilkan umbi yang dapat di manfaatkan sebagai bahan olahan, baik makanan, kosmetik hingga industri. Porang merupakan umbi yang belum terlalu populer dibandingkan dengan umbi-umbi yang lain.

Porang (Amorphophalus oncophyllus) dapat dijadikan salah satu alrenatif bahan pangan karena memilki kandungan gizi yang cukup tinggi, yaitu kandungan pati sebesar 76,5%, protein 9,20%, dan kandungan serat 25%. Dalam Tesisnya yang berjudul Studi Karakteristik Glukomanan Dari Sumber “Indegenous” iles-iles (Amorphophalus oncophyllus) Dengan Variasi Proses Pengeringan dan Basis Perendaman, Syaefulloh 1990 menjelaskan bahwa porang memiliki kandungan lemak sebesar 0,20%.

Bahkan porang dapat diproses lebih lanjut sebagai bahan campuran pada industri kertas, bahan pembuat lem, bahan untuk industri tekstil, industri perfilman, bahan isolator pada industri listrik. Porang juga bermanfaat untuk industri minuman dan makanan, industri farmasi, kosmetika dan pengobatan. Selain itu hasil olahan porang juga dapat dimanfaatkan untuk menjernihkan air dan memurnikan bagian koloid yang terapung pada industry bir, gula, minyak dan serat.

Salah satu manfaat umbi porang adalah banyak mengandung karbohidrat dan dapat digunakan untuk terapi diet yang murah bagi penderita diabetes mellitus karena dapat menekan peningkatan kadar gula darah. Umbi juga mengandung beberapa zat seperti asam betulinat, β-sitosterol, stigmasterol, lupeol. Dan lainnya yang kemungkinan berhubungan dengan penggunaan hancuran umbi porang sebagai obat dibeberapa tempat seperti Filipina dan India (Sakai 1993).

Tanaman Porang bisa tumbuh di tempat lembab dan terlindungi dari sinar matahari. Daerah dataran rendah sampai ketinggian 700m di atas permukaan laut, merupakan daerah yang bisa memberikan kehangatan optimal. Tanaman ini membutuhkan suhu rata-rata harian 25-35⁰C.

Hidayat, dalam buku Budidaya Porang di Dalam Kawasan Hutan. terbitan KPH Saradan, Perum Perhutani Madiun, menyatakan bahwa curah hujan rata-rata tahunan yang dibutuhkan antara 1000 mm–1500 mm. Tanaman ini cocok pada tanah yang gembur dan tidak tergenang air dalam berbagai jenis tanah yang mengandung pH 6-7. Naungan yang ideal bagi porang minimal memiliki kerapatan 40% dimana semakin rapat naungan maka pertumbuhan porang semakin baik.

Terdapat dua mekanisme adaptasi tanaman terhadap cekaman intensitas cahaya rendah yaitu mekanisme penghindaran dan mekanisme toleransi. Mekanisme penghindaran dilakukan melalui peningkatan luas daun, sedangkan mekanisme toleransi dengan melakukan penurunan laju respirasi (Levin, 1980; Fitter dan Hay, 1981; Hale dan Orcutt, 1987).

Porang merupakan tumbuhan yang memiliki mekanisme toleransi terhadap naungan yang tinggi sehingga tumbuhan ini dapat tumbuh baik di hutan, dan diharapkan dengan kondisi intensitas cahaya yang tidak jauh berbeda dengan hutan, tanaman ini bisa ditanam di bawah tegakan perkebunan karet sehingga lahan yang berada dibawah tegakan karet dapat termanfaatkan seoptimal mungkin.

Emma Pratiwi dalam tulisannya Pengaruh Pupuk Organik dan Intensitas Naungan Terhadap pertumbuhan Porang meyebutkan bahwa pertumbuhan porang yang paling baik dibawah tegakan hutan Sengon adalah dengan kisaran intensitas cahaya sebesar 30% dibandingkan intensitas cahaya 80%.

Porang memiliki bubil atau biasa disebut katak sebagai alat perkembangbiakan. Perbanyakan tanaman biasanya dilakukan dengan penanaman umbi, irisan mata tunas, ataupun kultur jaringan. Penanaman dengan menggunakan mata tunas merupakan cara yang paling efisien, jika ditanam dari umbinya memerlukan waktu 4-5 bulan setelah tanam dorman untuk dipanen. Sedangkan bila ditanam memalui irisan mata tunas, porang dapat dipanen pada umur 9-20 bulan.

Morfologi tanaman

Hasil utama tanaman porang berupa umbi. Ada dua macam umbi pada tanaman porang yaitu umbi batang yang berada di dalam tanah, dan umbi tetas/bupil yang terdapat pada setiap pangkal cabang atau tulang-tulang daun yang mengandung biji.

Umbi yang banyak dimanfaatkan adalah umbi batang yang berbentuk bulatan dan bagian atasnya berlekuk dangkal tempat bekas tumbuhnya tangkai. Umbi ini merupakan perubaha bentuk dari batang yang berfungsi sebagai cadangan makanan.

Dengan demikian umbi dan batang menyatu dengan batas yang tidak begitu jelas. Umbi terdiri atas bagian kulit dan daging umbi. Kulit umbi ketika di panen berwarna keabu-abuan dan jika di biarkan beberapa hari akan berubah menjadi kehitaman. Bagian kulit umbi yang terkupas akan mengeluarkan getah yang licin dan menyebabakan gatal di kulit.

Daging umbi porang berwarna kekuningan, berisi karbohidrat yang berfungsi bagi pertumbuhan selanjutnya. Akar tanaman porang berupa akar serabut berwarna putih. Akar yang berjumlah banyak ini tumbuh dari batang dan kulit umbi, berguna untuk memperluas daya serap air dan zat-zat hara dari dalam tanah. Sedangkan batang tanaman porang menyatu dengan umbinya dan merupakan bagian kecil dari keseluruhan bonggol umbi.

Pada perkembangan selanjutnya batang mengalami perubahan bentuk untuk menyimpan cadangan makanan sebagai umbi. Bagian lain dari tanaman porang adalah tangkai daun porang yang tumbuh ke atas dan dapat mencapai 125 cm dengan diameter mencapai 6 cm.

Tangkai daun utama lebih besar dan lebih panjang di bandingkan dengan batang. Tangkai daun berwarna hijau muda dengan motif berbentuk belang-belang, patah-patah tidak beraturan, berwarna putih atau pudar. Pada ujung tangkai daun terdapat daun yang terbagi dalam tiga bagian anak daun yang bertumpu pada satu tangkai dan. Pada ujung percabangan tangkai daun tumbuh umbi tetas/bupil. Demikian juga pada tangkai daun, masing-masing membentuk umbi tetas/bupil.

SEKILAS BUDIDAYA TANAMAN PORANG

Syarat tumbuh

Tanaman porang merupakan tanaman asli daerah tropis, yang tumbuh di bawah tegakan dengan kelembaban yang cukup dengan suhu sekitar 25◦C-35◦C dan curah hujun antara 1.000-1.500mm.

Tempat tumbuh yang optimal yaitu tempat dengan ketinggian 100-600 m dpl, dengan intensitas cahaya yang dibutuhkan antara 60% hinga 70%.

Kondisi tanah yang diperlukan agar porang dapat tumbuh dengan baik adalah tanah dengan tekstur lempung berpasir dan bersih dari alang-alang dengan ph netral (6-7).

Persiapan lahan

Lokasi tumbuh tanaman porang yang baik adalah di bawah naungan dengan itensitas cahaya 60-70%. Kegiatan penyimpanan lahan:

  1. Pada lahan datar

Setelah lahan dibersihkan dari semak-semak liar/gulma lalu dibuat guludan selebar 50 cm dengan tinggi 25 cm dan panjang di sesuaikan dengan lahan. Jarak antara guludan adalah 50 cm.

  1. Pada lahan miring

Lahan dibersihkan tidak perlu di olah. Lalu dibuat lubang tempat ruang tumbuh bibit yang di laksanakan pada saat penanaman.

Persiapan bibit

Porang dapat diperbanyak dengan cara vegetative dan generative (biji,tetas/bupil). Untuk bibit yang baik dipilih dari umbi dan bupil yang sehat. Bibit porang cukup ditanam sekali saja. Setelah bibit yang ditanam berusia 3 tahun dan dapat dipanen untuk pertama kalinya. Selanjutnya, porang dapat dipanen kembali tanpa perlu dilakukan penanaman kembali.

Kebutuhan bibit per satuan luas sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan dan jarak tanam. Dengan prosentase tumbuh benih da atas 90%, kebutuhan benih per hektar dengan jarak tanam 1 m×0,5 m adalah:

  1. Umbi : 1.500 kg ( ¬+20-30 buah/kg)
  2. Biji : 300 kg
  3. Bupil : 350 kg( +170-175 buah/kg)

Tata cara penyiapan bibit dari umbi adalah:

  1. Tentukan anakan tanaman porang yang telah berumur kurang lebih satu tahun yang pertumbuhannya subur dan sehat
  2. Bongkar rumpun/tanaman tadi kemudian bersihkan umbi dari akar-akar dan tanah yang masih menempel
  3. Kumpulkan bibit tersebut ditempat yang teduh dan mudah untuk penanganan selanjutnya yaitu penanaman
  4. Perlu diingat bahwa satu umbi hanya meghasilkan satu tanaman

Tata cara penyimpanan bibit dari bupil/katak adalah:

  1. Bupil diperoleh di sekitar rumpun tanaman yang telah cukup tua
  2. Bupil dipilih melalui seleksi, sehingga diperoleh bupil yang sehat
  3. Bupil yang terpilih dikumpulkan dalam wadah dan di simpan di tempat yang kering untuk menunggu penanganan selanjutnya.
  4. Dari setiap tanaman porang yang cukup besar dan tua maupun menghasilkan sampai 15 bupil

Penanaman

Porang sangat baik di tanam ketika turun hujan, yaitu sekitar NovemberDesember. Tahapan dalam menanam porang adalah sebagai berikut :

  1. Bibit yang sehat satu persatu di masukkan ke dalam lubang tanam dengan letak bakal tunas menghadap ke atas. Tutup bibit tersebut dengan tanah halus atau tanah olahan setebal sekitar 3 cm.
  2. Tiap lubang tanaman di isi satu bibit porang jarak tanam tergantung kebutuhan.

Pemeliharaan tanaman

Tanaman porang merupakan yang mudah tumbuh dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Namun untuk mendapatkan hasil melalui pertumbuhan dan produksi yang maksimal, dapat dilakukan dengan melakukan perawatan yang intensif, diantaranya dengan cara:

Penyiangan

  • Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang berupa rumput-rumput liar yang dapat menjadi pesaing tanaman porang dalam hal kebutuhan air, unsur hara dan faktor lainnya.
  • Penyiangan pertama sebaiknya dilakukan sebulan setelah umbi porang ditanam. Sedangkan penyiangan berikutnya dapat dilakukan kapan saja jika gulma muncul.
  • Setelah dilakukan penyiangan, selanjutnya gulma yang terkumpul ditimbun dalam sebuah lubang agar membusuk dan menjadi kompos.

Pemupukan

Pada saat pertama kali bibit ditanam, dilakukan pemupukan dasar, selanjutnya untuk pemupukan berikutnya dilakukan setahun sekali yaitu pada awal musim hujan. Jenis dan dosis pupuk urea 10 gram/lubang dan SP 36,5 gram/lubang. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara ditanam di sekitar batang porang.

Pengamanan dari pohon pelindung

Tanaman porang merupakan tanaman yang butuh naungan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengamanan dan pemeliharaan terhadap pohon pelindung agar dapat tumbuh dengan baik.

Pertumbuhan

Tanaman porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5-6 bulan setiap tahunnya yaitu pada musim penghujan. Di luar masa itu tanaman porang mengalami masa istirahat/dorman dan daunnya akan layu sehingga tampak seolah-olah mati.

Tanaman akan tumbuh kembali pada musim penghujan dan umbi yang berada di dalam tanah akan tumbuh membesar.

Pemanenan

Tanaman porang setelah ditanam selama tiga tahun baru dapat dipanen untuk pertama kalinya. Setelah itu tanaman ini dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya. Waktu panen biasanya dilakukan pada bulan April sampai Juli pada saat tanaman mengalami masa dorman.

Ciri-ciri tanaman sudah saatnya dipanen adalah sebagian besar atau seluruh tanaman sudah mati dan tersisa batang kering dan lubang kecil yang menjadi petunjuk keberadaan tanaman porang tersebut.

Umbi yang dipanen adalah umbi yang sudah besar yang beratnya mencapai 1 kg/umbi, sedangkan umbi yang masih kecil ditinggalkan untuk dipanen pada daur berikutnya. Rata-rata produksi umbi porang sekitar 10 ton per hektar.

Pengolahan

Setelah dilakukan pemanenan, umbi porang dibersihkan dari kotoran berupa tanah dan akar yang menempel. Kemudian diiris dengan ketebalan sekitar 0,5 Cm. Proses selanjutnya yaitu menjemurnya di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Proses penjemuran ini memerlukan waktu sekitar 5 hari.

Pada tahap ini porang harus benar-benar kering, untuk menghindari timbulnya jamur yang dapat mengurangi kualitas dan harga jual porang.