Pemanfaatan Lahan Perhutani untuk Budidaya Porang

Porang adalah tanaman kurang dimanfaatkan, yang merupakan sumber glukomanan. Glukomannan adalah karbohidrat yang banyak digunakan dalam industri obat, makanan dan minuman, kosmetika, bahan perekat/lem dan lain-lain (Widjanarko 2008). Selain itu umbi porang juga memiliki mineral tinggi yang penting bagi metabolism yaitu kalium, magnesium, dan fosfor .

Pada beberapa tahun terakhir kebutuhan porang sangat besar. Pada tahun 2009 kebutuhan chip porang mencapai 3.400 ton chip kering porang (Widjanarko 2009). Di Jawa Timur produksi porang pada tahun 2009 hanya sekitar 3.000–5.000 ton umbi basah atau hanya 600–1.000 kg dried chip (Suheriyanto et al. 2012). Produk berikut sebagai hasil proses lanjut dari chip adalah tepung glukomanan.

Harga tepung glukomanan di KBM Agroforesty milik Perhutani di Pare, Kediri, Jawa Timur antara Rp.130.000–150.000/kg. Sedangkan harga tepung glukomanan dengan mutu food grade (kadar glukomanan >80%) di pasar internasional per 15 Februari 2015 sekitar $2.650/kg (Market Publishers 2015).

Porang merupakan tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai komoditi ekspor karena beberapa negara membutuhkan tanaman ini sebagai bahan makanan maupun bahan industri. Indonesia mengekspor porang dalam bentuk gaplek atau tepung ke Jepang, Australia, Srilanka, Malaysia, Korea, Selandia Baru, Pakistan, Inggris dan Italia.

Permintaan porang dalam bentuk segar maupun chip kering terus meningkat. Sebagai contoh, produksi porang di Jawa Timur tahun 2009 baru mencapai 600-1000 ton chip kering sedangkan kebutuhan industri sekitar 3.400 ton chip kering (Wijanarko dkk, 2012 dalam Sulistiyo, dkk, 2015).

Kebutuhan ini belum dapat dipenuhi karena di Indonesia porang belum dibudidayakan secara intensif dan masih sangat tergantung pada potensi alam, luas penanaman yang masih terbatas dan belum adanya pedoman budidaya yang lengkap. Selain itu, juga disebabkan belum banyak masyarakat yang mengenal, umur tanaman yang relatif lebih lama dibandingkan jenis umbi dan palawija lain (Sumarwoto, 2004).

Porang merupakan salah satu jenis tumbuhan umbi-umbian, berupa semak (herba) yang dapat dijumpai tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis. Belum banyak dibudidayakan dan ditemukan tumbuh liar di dalam hutan, di bawah rumpun bambu, di tepi sungai dan di lereng gunung (pada tempat yang lembab).

Porang dapat tumbuh di bawah naungan, sehingga cocok dikembangkan sebagai tanaman sela di antara jenis tanaman kayu atau pepohonan yang dikelola dengan sistem agroforestry. Budidaya porang merupakan upaya diversifikasi bahan pangan serta penyediaan bahan baku industri yang dapat meningkatkan nilai komoditi ekspor di Indonesia. Komposisi umbi porang bersifat rendah kalori, sehingga dapat berguna sebagai makanan diet yang menyehatkan (Dewanto dan Purnomo, 2009 dalam Sari dan Suhartati. 2015).

Porang dapat tumbuh baik pada tanah kering dan berhumus dengan pH 6-7. Umbi batangnya berada di dalam tanah dan umbi inilah yang dipungut hasilnya.

Tanaman porang dikawasan hutan kebanyakan dibudidayakan dibawah tegakan tanaman jati dan sonokeling. Saat ini masih terdapat kerancuan dalam membedakan antara tanaman Porang (Amarphopallus ancophillus) dengan Iles-iles (Amarphopallus muelleri Blume), Suweg (Amarphopallus companulatus) dan Walur (Amarphopallus variabilis), ciri-ciri tanaman porang dijeskan pada Penelitian terbaru membuktikan bahwa dari keempat jenis umbi-umbian tersebut porang memiliki kandungan glukomanan tertinggi (35%), Untuk itu umbi porang saat ini banyak dicari orang karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi (Perhutani, 2007 dalam Siswanto dan .Karamina, 2016).

Usaha peningkatan potentsi produksi tanaman porang dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi lahan, evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi suatu lahan untuk penggunaan-penggunaan tertentu yang berguna untuk membantu perencanaan dan pengelolaan lahan melalui interpretasi sifat fisika kimia tanah, potensi penggunaan lahan sekarang dan sebelumnya.

Evaluasi lahan secara fisik dapat menjawab tingkat kesesuaian lahannya dan secara ekonomik akan menjawab kelayakan usahataninya. Secara spesifik, kesesuaian lahan untuk suatu komoditas dinilai berdasarkan sifat-sifat fisik linkungan sepeti tingkat kesuburan tanah, iklim, topografi (kelas lereng), hidrologi, dan drainase (Hardjowigeno dan Widiamaka, 2001 dalam Fitriana Uswatun Hasanah, 2012)

Umbi porang mempunyai potensi yang sangat besar dalam bidang produksi, namun hal ini belum dikelola secara benar dan maksimal, padahal umbi porang adalah bahan baku dalam pembuatan tepung glukomannan yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi dan kegunaan yang luas dalam bidang pangan.

Tepung glukomannan tersebut apabila diproduksi secara besar-besaran dapat meningkatkan ekspor non migas, devisa negara, kesejahteraan masyarakat, dan menciptakan lapangan kerja. Zat glukomannan ini dapat digunakan untuk bahan perekat, bahan seluloid, kosmetik, bahan makanan, industri tekstil dan kertas (Sumarwoto, 2008 dalam Sari dan Suhartati 2015).

Salah satu lahan yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produksi porang adalah lahan bawah tegakan pinus Perum Perhutani. Pemanfaatan lahan dibawah tegakan tanaman pinus perhutani memiliki potensi untuk pengembangan tanaman porang karena tanaman porang membutuhkan naungan yang cukup rapat, untuk mengetahui potensi sumberdaya lahan tersebut sangat diperlukan pendekatan evaluasi lahan untuk mengetahui tingkat kesesuaiannya pada tanaman porang dan gambaran perbaikan yang harus dilakukan, sehingga dapat menunjang produktivitas porang.

Lahan di bawah tegakan pinus masih dapat dimanfaatkan dengan budidaya tanaman yang membutuhkan naungan, dalam penelitian ini tanaman yang dijadikan obyek penelitian adalah tanaman porang yang akan dikembangkan di RPH Kaliwiro. Dalam usaha peningkatan produktivitas tanaman dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, salah satunya melalui evaluasi kesesuaian lahan.

Kecocokan atau kesesuaian lahan dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, topografi serta ketinggian tempat. Untuk kesesuaian lahan pada kategori sub kelas bagi tanaman porang harus diketahui syarat tumbuh tanaman terlebih dahulu, persyaratan tersebut terdiri dari temperatur rata-rata tahunan, tekstur tanah, kedalaman perakaran, pH tanah, salinitas serta kemiringan lahan.

Pengamatan dan pengukuran di lapangan serta dilengkapi dengan analisis sampel tanah di laboratorium dilakukan untuk memperoleh data tentang sifat tanah pada setiap satuan lahan. Sehingga dengan data yang diperoleh tersebut maka dapat diketahui karakteristik dan kualitas lahan pada masing-masing satuan lahan.

Dalam suatu penggunaan lahan tertentu maka harus dilakukan pembandingan antara kesesuaian lahan dengan persyaratan tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman yang akan dibudidayakan, dalam penelitian ini tanaman yang akan diteliti adalah tanaman porang yang akan ditanam di bawah tegakan pinus, sehingga akan didapatkan kelas kesesuaian lahannya.