Morfologi, Karakter, dan Kandungan Porang

Kenapa tanaman ini banyak dibudidayakan? Apa kandungan porang ini? Tanaman porang merupakan tumbuhan herba dan menchun. Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun.

Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil/katak berwarna coklat kehitam-hitaman yang disebut bubil atau katak porang. Katak atau bubil porang ini lah yang menjadi alat perkembangbiakan tanaman porang.

Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah (Fernida, 2009). Daun soliter, dengan tangkai daun silindris, panjang, licin, berwarna hijau sampai hijau abu- abu dengan banyak bintik-bintik berwarna hijau pucat.

Helaian daun terbelah menjadi tiga, di tengah helaian daun ada umbi coklat tua gelap yang kasar berbintil-bintil, disebut bulbil atau katak, atau umbi gantung. Anak daun berbentuk lanset (kecil panjang) dengan banyak lekukan pada pinggir daunnya.

Perbungaan soliter yang tumbuh dari umbinya ketika daun dorman, tangkai bunga silindris, permukaan licin, panjang, berwarna hijau meng- kilat dengan berbintikbintik hijau muda.

Iles-iles atau porang memiliki organ penyimpanan bawah tanah berupa umbi. Bentuk umbi ini biasanya berbentuk bulat pipih dan menjadi besar setelah mencapai tahap dewasa. Umbi berbentuk bulat dengan garis tengah umbi dapat mencapai sekirat 30 cm dan tebalnya 20 cm. Dengan ukuran seperti itu, beratnya dapat mencapai 20–25 kg. Daging umbi porang berwarna putih kekuningan dengan kulit umbi berwarna coklat gelap (Kasno, 2014).

Kandungan Porang

Umbi porang (Amorphophallus oncophyllus) termasuk tanaman umbi famili Araceae yang mengandung glukomanan cukup tinggi (15–64% basis kering). Glukomanan merupakan makanan dengan kandungan serat larut air yang tinggi, rendah kalori dan bersifat hidrokoloidnya yang khas (Faridah, 2012).

Chip porang
Chip porang

Umbi porang sangat jarang digunakan untuk konsumsi langsung karena mengandung kristal kalsium oksalat yang menyebabkan rasa gatal dan bisa mengganggu kesehatan. Sehingga sering dibuat gaplek atau chip porang atau tepung terlebih dahulu.

Kumar (2013) mengatakan glukomanan adalah polisakarida dari golongan mannan yang terdiri dari monomer β-1,4 ɑ-monnose dan ɑ-glukosa. Glukomanan yang terkandung dalam umbi porang memiliki sifat yang dapat memperkuat gel, memperbaiki tekstur, mengentalkan, menurunkan kadar gula darah, dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah (Nugraheni, 2014).

Umbi porang mengandung polisakarida yang mampu menyerap air yang disebut manan atau lebih tepatnya glukomanan. Fungsi glukomanan yang serupa dengan serat pangan memiliki kelebihankelebihan tertentu, yaitu: meningkatkan fungsi pencernaan dan sistem imun, menurunkan kadar kolesterol dan gula darah, serta membantu menurunkan berat badan (Zhang 2005).

Keberadaan glukomanan inilah yang menjadi pembeda antara porang dengan umbi lain sejenis (A. campanulatus). Tidak hanya glukomanan, sebagaimana di sebut di atas, umbi porang juga mengandung kristal kalsium oksalat. Kandungan ini jika dimakan mentah akan membuat mulut, lidah dan kerongkongan terasa tertusuk-tusuk atau gatal. Kristal kalsium oksalat ini merupakan produk buangan dari metabolisme sel yang tidak digunakan lagi oleh tanaman dan terdapat di dalam dan di luar sel manan.