Mengenal Tanaman Porang

Pemanfaatan lahan di bawah tegakan ( PLBT) merupakan kegiatan yang dapat dikembangkan dalam rangka optimalisasi fungsi lahan, hal ini dapat dilihat di sekitar kebun petani masih banyak lahan yang kurang dimanfaatkan dengan baik, bahkan cenderung dibiarkan menjadi semak belukar.

Adapun kondisi lahan di bawah tegakan dapat di manfaatkan dengan menaman berbagai tanaman yang tahan naungan, dalam arti tanaman yang tahan terhadap intensitas matahari yang sedikit, oleh karena itu potensi kondisi ini sangat memungkinkan untuk di jadikan bagian yang dapat menambah pendapatan petani dengan modal yang relatif kecil.

Disamping itu manfaat dari umbi porang dapat digunakan sebagai bahan baku industri. Tanaman tersebut kini mempunyai prospek yang menjanjikan karena memiliki nilai ekonomi yang bisa dibudidayakan.

Selain itu, Porang banyak digunaan untuk industri kesehatan, hal ini terutama karena adanya kandungan zat Glucomanan yang ada di dalamnya. Beberapa manfaat umbi porang yang lainnya diantaranya; bahan lem, jeli, mie, tahu, bahan film, perekat tablet, pembungkus kapsul, penguat kertas dll.

Potensi Budidaya

Di Indonesia sangat potensial mengembangan upaya Pemanfaatan Lahan Bawah Tegakan (PLBT) karena masih terdapat lebih Kurang 40 % luasnya merupakan kawasan hutan dan perkebunan rakyat, yang dapat di manfaatkan sebagai upaya optimasi pemanfaatan lahan dengan pola Pemanfaatan Lahan Bawah Tegakan (PLBT).

Misalnya di Provinsi Banten saja, pola ini dapat dilakukan pada lahan hutan produksi seluas lebih kurang 72.292,92 ha yang dikelola oleh Perum Perhutani dan perkebunan rakyat seluas 142.965 ha, serta kawasan hutan rakyat lebih kurang 130.000 ha. Potensi ini kalau dikelola dengan baik melalui program Pemanfaatan Lahan Bawah Tegakan (PLBT) maka akan mendorong dan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, sehingga dapat menekan terjadinya urbanisasi.

Banyak jenis tanaman yang tahan terhadap naungan seperti halnya talas, kapollaga, lengkuas, kunyit, dan tanaman yang sekarang lagi dikembangkan adalah tanaman porang atau iles-iles ( Amophopallus oncophilus). Tanaman ini sudah berkembang baik didaerah jawa timur terutama di kabupaten Madiun, Nganjuk, Jember, Kediri Ngawi dll.

Melihat potensi luasnya hutan jati di Kabupaten Blora, menjadikan animo masyarakat untuk mengembangkan iles-iles relatif tinggi, hal ini didukung dengan pasar yang cukup tersedia baik dalam bentuk basah maupun simplisia kering, ini pula yang mendorong masyarakat di jawa timur bersemangat dalam memanfaatkan kawasan hutan jati milik perhutani terus dipertahankan melalui pola Pengelolaan Hutan bersama Masyarakat (PHBM). Peluang yang baik akan terwujud di Banten karena ada 204 Lembaga Mayarakat Desa Hutan (LMDH) yang berkerja sama dengan perum perhutani berada di kabupaten Pandeglang, Lebak dan serang, belum termasuk di luar kawasan hutan yaitu hutan rakyat dan perkebunan rakyat.

Manfaat Tumbuhan Porang

Manfaat porang ternyata dapat menjadi bagian penting untuk industri dan kesehatan seperti halnya sebagai bahan baku lem yang ramah lingkungan, campuran bahan baku kertas agar kertas menjadi lemas dan kuat serta pengkilap kain,lem kertas, dan cat.

Dalam membuat perbanyakan bahan tanaman dengan cara kultur jaringan, gel porang dapat menjadi media tumbuh pengganti media tumbuh mikroba, gel porang dapat pula digunakan sebagai pengganti gel sisilicion karena glukomanan dapat menjadi isolator listrik, campuran dalam alat-alat pesawat terbang dan parasut.

Di jepang tepung porang dapat dijadikan makanan mie shirataki dan konyaku, bahan pengetal sirup dan pereat eskrim agar tidak cepat meleleh, dapat pula dijadikan penjernih air pengganti kaporit, pengikat formulasi tablet, bahan baku pembentuk kapsul obat, porang dapat bermanfaat juga atau berkhasiat unuk kesehatan seperti mengurangi kadar kolesterol, cocok untuk diet dan diabetes dimakan dalam bentuk agar-agar yang mengandung Vitamin A danB lebih tinggi dari kentang.

Pasar Porang

Mengenai pasar porang sendiri sangat luar biasa banyak ,baik dalam negeri maupun permintaan dari luar negeri, yang berupa cip’s atau porang kering/simplisia.

Persaingan harga yang semakin meningkat seiring dari banyak nya permintaan di sektor industri,hal ini merupakan dongkrak para petani kita untuk terus meningkat kan produksi. Sudah selayak nya bimbingan serta pengarahan pola tanam yang benar, sehingga mampu meningkatkan hasil yang lebih maximal.

Porang liar memang tersebar di beberapa daerah akan tetapi itu belum mampu mensupply kuota permintaan pasar. Maka sebelum terjun ke bisnis porang alangkah baik nya kita harus mengenali serta mengetahui ciri ciri porang itu sendiri, banyak sekali kegagalan mereka (para pengusaha) yang hanya tau peluang tetapi mereka belum tau varitas serta ciri ciri dari porang, ada beberapa varitas yang harus kita tau di antaranya:

  1. Amorphophallus campanulatus forma hortensis : Suweg (Jawa dan Sunda), Sobek (Madura).
  2. Amorphophallus campanulatus forma sylvestris : Walur (Jawa).
  3. Amorphophallus variabilis : Iles putih (Jawa)
  4. Amorphophallus onchophyllus : Porang (Jawa), Acung/Cocoan oray/Iles (Sunda) dan Kruwu/lorkong/Labig/Subeg Bali/Subeg leres (Madura)

Pengalaman Budidaya

Testimoni atau pengalaman petani di jawa timur (Paidi) ternyata memberikan informasi yang menggembirakan karena nilai jual umbi porang yang baik misalnya pendapatan hasil menjual umbi porang setiap hetarnya dapat mencapai Rp 200 juta dengan rincian sebagai berikut;

Modal awal untuk pembelian bibit setiap 2000 m2 adalah 500 kg x Rp 11.000 =5.500.000. Biaya usaha tani yaitu membeli pupuk un organik(pupuk buatan) seperti pupuk NPK/TSP : sebanyak 350 dengan harga RP 2.600,./kg = Rp. 910.000. Pembelian pupuk organik/kompos 2000 kg harga Rp. 500/kg =Rp.1.000.000. Tenaga kerja dengan upah Rp 6.00.000/bulan/ dikerjakan oleh 1 orang selama 7 bulan dari jam 07.00 samapai dengan 12.00, sehingga biaya tenaga kerja yang harus disiapkan sebersar Rp. 4.200.000. Mulai dari pemersihan lapangan, penanaman, pemeliharaan sampai dengan panen, biaya yang disiapkan sebagai modal budi daya tanaman porang sebesar Rp. 11.610.000.

Jarak tanam yang lakukan untuk budidaya porang adalah 40 cm x 25 cm yaitu jarak barisan 40 cm dan jarak dalam barisan 25 cm, sehingga 1 ha membutuhkan biji/bibit sebanyak 10.000 biji/bibit. Perhitungan hasil produksi untuk lahan seluas 2000 m2 dalam umur tanaman porang 7 bulan, adalah umbi yang dapat dihasilkan sebayak 5kg/buah dengan jumlah tanaman 2000 buah. Maka produksi yang dapat diperoleh sebanyak 10 ton dengan harga Rp 4000/kg, nilai penjulan sebesar Rp 40.000.000,-.

Keuntungan dari usaha tani tanaman porang adalah Rp 40.000.000 – Rp.11.610.000(modal)=Rp.28.390.000,-(pendapatan bersih), bahkan untuk menamah nilai tambah dari porang dapat diekspor ke Jepang, Vietman dan Eropa, dalam bentuk kripik kering/simplisia seharga US $ 18/kg.

Bibit Porang Yang Berkualitas

Untuk mewujudkan keinginan tersebut perlu banyak informasi tentang budi daya porang dan informasi pasar produk porang, hal ini menjadi penting untuk mendorong masyarakat tani hutan ikut serta dan berkiprah memanfaatkan lahan dengan tanaman porang/iles-iles/suweg. Semangat yang tinggi dari petani hutan dalam budidaya porang akan segera terwujud, dengan harapan akan memperoleh tambahan pendapatan dari pemanfaatan lahan di bawah tegakan.

Budidaya tanaman porang sangatlah mudah, karena tanaman ini termasuk tumbuhan semak (herba) dapat tumbuh baik pada ketinggian 100-600 dari permukaan laut (DPL), membutuhkan tanah yang gembur dan subur serta tidak becek atau tergenang, sehingga cocok sekali pada lahan di bawah tegakan kayu atau tanaman keras yang cenderung di lahan kering. Ciri –ciri tanaman porang adalah tinggi antara 100-150 cm, umbi berada dalam tanah, batang tegak dan lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belangbelang (totol-totol) putih, batang memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi menjadi tangkai daun.

Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu antara lain:

a) Perkembangbiakan dengan Katak, dalam 1 kg Katak berisi lebih dari 100 butir.

Katak ini masa panen dikumpulkan, kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan. Pada setiap pertemuan batang porang akan tumbuh bintil berwarna coklat kehitamhitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman porang.

b).Perkembangbiakan dengan Biji/Buah, tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji.

Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji lebih dari 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.

c). Perkembangbiakan dengan Umbi

Umbi yang kecil, yang diperoleh dari hasil pengurangan tanaman ataun penjarangan yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan/penjarangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit, untuk umbi yang besar, dapat dilakukan dengan cara umbi tersebut dipecahpecah sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

Syarat Tumbuh Porang

Pada umumnya tanaman Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya. Beberapa syarat yang diperlukan tersebut antara lain:

a) Keadaan Iklim

Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 – 600 M dpl.

b).Keadaan Tanah

Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 – 7 , serta pada kondisi jenis tanah apa saja.

c). Kondisi Lingkungan

Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain, yang penting ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.

Untuk masa panen, tanaman porang dapat dilakukan setelah berumur 3-4 tahun (3 kali pertumbuhan). Artinya bahwa porang akan mati Katak porang batangnya setiap tahun pada disaat musim kemarau dan dimusim penghujan akan tunbuh lagi. Bila sudah mencapai empat tahun maka akan timbul bunga seperti gada berwarna merah dan beraroma bau seperti bangkai selanjutnya akan timbul biji yang dapat dijadikan bahan tanaman, batangnya sendiri akan menguning dan layu. Biji dari porang harus disemai terlebih dahulu sampai bertunas sebelum di tanam di lapangan.